Kota Depok, Bahasa Sunda Atau Betawi

Sebarkan :

 
Mohammad Idris

Walikota Depok sedang berdialog dengan salah satu pasien RSUD Kota Depok.

Oleh: Muhammad Aprian

Depok merupakan kota pembatas antara Provinsi Jawa Barat dengan Ibu Kota Jakarta.

Perlu diketahui bahwa dari Kota Depok adalah kota yang diarahkan sebagai kota pendidikan.

Argument tersebut diperkuat dengan Visi kota Depok : Depok Kota Pendidikan, Pemukiman, Perdagangan, dan Jasa yang Religius dan Berwawasan.

Kota Depok yang kuat dengan visinya menempatkan pendidikan di jajaran terdepan.

Tidak hanya visi Kota Depok, tetapi Dinas Pendidikan kota Depok pun menyeragamkan dengan visi kotanya dengan visi terwujudnya pendidikan yang Unggul, Kreatif, dan Religius.

Rumusan visi yang menjadi keunggulan Kota Depok didasarkan pada analisa kondisi faktual yang ada maupun kondisi politik, ekonomi, sosiokultural masyarakat kota Depok yang memang mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Visi Kota Depok menjelaskan bahwa pembangunan pendidikan didasarkan pada kondisi faktual.

Dalam stuktur pendidikanya jika suatu materi pembelajaran tidak lagi relevan bagi perkembangan zaman maka materi tersebut dapat disesuaikan bahkan diubah dengan materi dengan materi yang lebih sesuai sehingga semua itu menggambarkan visi Kota Depok bersifat Dinamis dan tidak statis.

Di sisi lain fakta yang mengatakan ada salah satu materi pembelajaran di sekolah-sekolah yang tidak lagi sesuai dengan kondisi faktual masyarakat kota Depok, yakni muatan lokal Bahasa Sunda.

Sebenarnya muatan lokal itu sangat urgen bagi suatu daerah. Muatan lokal atau biasa dikenal dengan mulok merupakan kegiatan kurikulum untuk pengembangan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keungulan daerah yang materinya tidak dapat dikelompokan kedalam mata pelajaran yang sudah ada.

Tentunya substansi mata pelajaran muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas kepada mata pelajaran keterampilan saja.

Muatal lokal merupakan bagian dari struk dan muatan kurikulum yang terdapat pada standard isi di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan.

Lebih jelas lagi, Kemendiknas (Kemendikbud) menyebutkan bahwa keberadaan mata pelajaran muatan lokal merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang tidak terpusat sebagai upaya agar penyelenggaraan pendidikan di masing-masing daerah lebih meningkat relevansinya terhadap keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan.

Maka itulah muatan lokal hadir sebagai bentuk penjelasan yang ilmiah kepada siswa mengenai hal-hal yang ada di sekitar mereka yang tentunya relevan dengan apa yang mereka lihat dan dengar dalam kehidupan sehari-hari.

Mulok bukanlah suatu hal yang bersifat terpusat melainkan bergantung dengan kondisi daerah tempat mulok itu diselenggarakan.

Membaca hasil penelitian dialektologi yang dilakukan oleh sosiolog pada tahun 1997 dan 2010 membuktikan bahwa sebagian bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat Depok adalah bahasa Betawi subdialek pinggiran sejak Depok masih terbagi atas tiga kecamatan itu terhitung sebelum tahun 1999 sampai terbagi atas sebelas kecamatan di tahun 2010.

Dari sebelas kecamatan hanya kecamatan t
Tapos saja yang berbahasa Sunda. Bahasa Betawi merupakan bahasa yang terbesar di sepuluh kecamatan. Antara lain, Beji, Pancoran Mas, Cilodong, Sukamajaya, Limo, Sawangan, Cipayung, Cimanggis Cinere, dan Bojong Sari.

Sudah sangat jelas bahwa Bahasa Sunda bukanlah bahsa yang dipergunakan oleh sebagian besar masyarakat Depok.

Begitupun dengan masyarakat Depok yang merasakan belajar Bahasa Sunda dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

Dalam sebuah acara Kota Depok menyatakan dirinya masuk kedalam budaya Betawi dan Melayu. Sepeti apa yang di paparkan oleh Nur Mahmudi Ismail dalam sambutan pada Festival Seni Budaya tahun ke-5 Kota Depok.

Nur Mahmudi menyatakan usulan agar muatan lokal bahasa Sunda tidak diwajibkan. Ia juga menuturkan Kota Depok masuk zona Melayu Betawi, sesuai dengan perda No. 5 tahun 2006 bahwa Provinsi Jawa Barat itu terbagi tiga zona, yaitu zona Betawi Melayu, Pantura, dan Jawareh (Jawa Sawareh).

Nur Mahmudi ketika itu menyebutkan bahwa Kota Depok akan tetap melestarikan kesenian Jawa Barat.

Menurutnya, pelestarian dan pengembangan kesenian Betawi Melayu dan Sunda tetap menjadi perhatian Kota Depok.

“Seni budaya dapat mempererat persatuan bangsa” kata Nur Mahmudi yang memang memahami betul kondisi demografis masyarakat Depok.

Apa yang dikatakan oleh Nur Mahmudi menyatakan memanglah sesuai dengan kajian dialektologis yang telah dipaparkan di atas bahwa bahasa Betawi subdialek pinggiranlah yang menjadikan bahasa dominan masyarakat Kota Depok.

Fakta ini tidaklah dapat dibendung dan bukan merupakan semata upaya pemisahan diri Kota Depok dari identitas kesundaan. Bahkan, bahasa Betawi dapat pertimbangan menjadi muatan lokal di Kota Depok, jika data-data untuk mewujudkan hal itu mendukung.

Sebagai bentuk efesiensi mata pelajaran, sudah sebaiknya kita mencermati mata pelajaran apa saja yang dibutuhkan siswa dan relevan dengan kodisi yang ada disekitarnya.

Terlebih hal ini berkaitan dengan pelajaran mulok. Muloklah yang mengangkat kearifan lokal menjadi mata pelajaran memang dibuat agar siswa semakin sadar dengan kearifan lokal yang ada disekitarnya.

Mereka berharap dapat lebih peduli dan lebih jauh dapat menjelaskan fenomena-fenomena terkait dengan mulok tersebut secara ilmiah.

Bahasa Sunda bukanlah bahasa utama di Kota Depok. Dengan begitu menjadikan Bahasa Sunda sebagai muatan lokal tidaklah ada relevansinya dengan kehidupan sehari-hari kecuali segelintir wilayah di Kota Depok.

Oleh karena itu pemasukkan Bahasa Sunda di Kota Depok menjadikan mulok layak untuk dipertimbangkan lagi.

Bahkan menjadikan bahasa Betawi sebagai mulok bagi wilayah Depok juga dapat menjadi pertimbangan jika memang benar-benar ingin memberikan mulok sesuai dengan kondisi sosial kemasyarakatan kota Depok.

Peran penting pelajar aiswa ataupun mahasiswa dalam membangun wadah pencintraan budaya Kota Depok adalah hal yang harus dilakukan agar eksistensi budaya Kota Depok menampilkan ciri khas Betawinya.

Komunitas kesenian ataupun pengrajin Budaya Betawi yang belum dilirik membuat pelajar serta generasi muda Kota Depok akan lebih tau tentang kebetawiannya.

Apabila didukung dalam kesehariannya di wilayah pendidikan akan membuat situasi sesuai dengan kondisi sosial kemasyarakatan Kota Depok.

Harusnya pemerintah kembali memperhatikan dengan benar sehingga tidak lagi ada kecendrungan primodialisme yang salah pada tatanan muatan lokal yang nantinya menghilangkan eksistensi budaya yang ada.

Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan suku akan berwarna jika pemerintah tidak mencampurkan eksistensi warnanya yang membuat ketidak selarasan sosial budayanya.

Bila pemerintah sudah benar mengatur stuktruk masyarakat khususnya pendidikan budaya maka tidak akan terjadi hal-hal yang baru-baru ini terjadi di luar Indonesia ketika perlahan budaya Indonesia di adopsi karena kesibukan masyarakat Indonesia

Maayarakat Indonesia memang tidak dibentuk agar melestarikan serta menjaga budayanya.

Maka marilah mewujudkan pendidikan budaya yang membentuk rasa cinta terhadap budayanya sesuai dengan primodialnya sehingga membentuk rasa nasionalisme yang terbentuk dari budaya. Ingat budaya alat pemersatu bangsa yang harus dibangun dengan pendidikan yang baik dan benar. @


Redaksi Depokrayanews.com menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : evand212@yahoo.com via wa/SMS : 0878-8351-8091.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bayi yang Meninggal di RSUD Kota Depok Ternyata Alamat Keluarganya Fiktif

DepokRayanews.com- Bayi yang sakit kemudian meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok, ternyata ...