by

44 Tahun Jasa Marga, Perjuangan Panjang Menghubungkan Nusantara

DEPOKRAYANEWS.COM- Pembangunan jalan tol pertama di Indonesia dimulai pada 1978, ketika Pemerintah Indonesia membangun jalan tol yang menghubungkan Jakarta, Bogor dan Ciawi atau yang dikenal dengan Tol Jagorawi.

Ketika itu, PT Jasa Marga dipercaya untuk membangun jalan tol sepanjang 59 km itu. Sumber dananya berasal dari pemerintah dan sebagian dari dana pinjaman luar negeri.

Karena dianggap sukses, PT Jasa Marga kemudian ditugaskan oleh pemerintah untuk membangun jalan tol di Indonesia.

Meski Indonesia baru mengenai jalan tol pada Tahun 1978, tapi sejatinya jalan tol sudah ada sejak zaman Babylonia yakni pada abad-7. Kemudian jalan tol dibangun di Eropa, seperti Inggris hingga zaman Romawi pada abad ke-14 hingga abad ke-15. Pada abad ke-21, jalan tol baru dibangun di Indonesia.

Sepuluh tahun kemudian, yakni pada Tahun 1987, pemerintah memberi izin kepada pihak swasta untuk ikut membangun jalan tol dengan pola kerja sama dengan PT Jasa Marga.

Hingga bulan November Tahun 2021, ruas tol yang sudah beroperasi di Indonesia mencapai 2.457 km. Ini merupakan akumulasi dari ruas tol yang tuntas dan dioperasikan sejak Tahun 1978 hingga 2014 sepanjang 795 km. Kemudian pada periode 2015-2019 ada tambahan sepanjang 1.298 km, dan tahun 2020 sepanjang 246 km. Sampai akhir Tahun 2021, total jalan tol yang telah beroperasi di seluruh Indonesia mencapai 2.489,2 km.

Kemudian pada Tahun 2022-2024 direncanakan ada 1.010,8 km lagi yang beroperasi yaitu pada Tahun 2022 sepanjang 421,8 km, Tahun 2023 sepanjang 338,1 km, dan Tahun 2024 sepanjang 250,8 km.

Presiden Joko Widodo, mengatakan sejak Jalan Tol Jagorawi dibangun pada Tahun 1978, semua negara melihat ke Indonesia. Tapi hingga tahun 2014 atau hampir 40 tahun, pemerintah baru bisa membangun jalan tol sepanjang 780 km.

Ketika pertama menjadi presiden, Jokowi menyebut jalan tol di Indonesia tertinggal jauh dari negara lain, termasuk tetangga, Malaysia. Padahal yang membangun jalan tol pertama di Malaysia adalah perusahaan asal Indonesia.

Karena itu, kata Jokowi pembangunan jalan tol di Indonesia harus dikebut untuk menggejar ketertinggala itu. Hingga Tahun 2024, Jokowi menargetkan pembangunan jalan tol mencapai 4.700 – 5.200 km

Meski sudah banyak yang merasakan manfaatnya, pembangunan jalan tol masih saja menimbulkan pro-kontra. Yang kontra selalu mencari titik lemah dari jalan tol dengan segala efek negatif yang ditimbulkan. Mereka terus berteriak bahwa jalan tol merupakan proyek infrastruktur mahal yang mubazir, tidak bermanfaat bagi masyarakat banyak. Kecuali bagi orang kaya.

Padahal sejak awal, Presiden Jokowi menekankan bahwa pembangunan jalan tol adalah untuk memperlancar lalu lintas, mempercepat waktu tempuh, memperlancar distribusi barang dan jasa untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Kemudian untuk meningkatkan pemerataa pembangunan dan keadilan. Meringankan beban pemerintah melalui partisipasi pengguna jalan.

Pembangunan jalan tol diyakini akan berpengaruh besar terhadap perkembangan wilayah dan peningkatan ekonomi. Meningkatkan mobilitas dan aksesibilitas orang dan barang.

‘’Percepatan insfrastruktur untuk membangun konektivitas dengan kawasan lain. Selain itu menjadi jembatan untuk membangun kawasan baru, seperti kawasan industri, kawasan perumahan, dan kawasan ekonomi,’’ kata Presiden Jokowi suatu kali.

Manfaat jalan tol sudah dirasakan banyak orang. Baik yang menggunakan jalan Tol Trans Jawa mapun jalan Tol Trans Sumatera, dan Trans Sulawesi meskipun belum semua pembangunan jalan tol itu tuntas.
‘’Saat ini perjalanan Jakarta-Surabaya menjadi lebih singkat dari sisi waktu tempuh,’’ kata Suratman, salah seorang sopir bus Rasa Sayang rute Bima-Surabaya-Jakarta.

Menurut Suratman, kehadiran jalan Tol Trans Jawa memberikan dampak positif lantaran telah banyak memangkas waktu perjalanan.

“Buat bus kita dari Bima ke Jakarta bedanya dulu (Jakarta-Surabaya) sekitar 18 atau 20 jam. Sekarang bisa 10 jam atau 12 jam kalau tidak macet,” kata Suratman. Selain lancar, perjalanan antar kota antar provinsi terutama via Tol Trans Jawa, kata dia, sudah lebih nyaman.

Cerita yang hampir sama disampaikan Adli, seorang warga Kota Depok. ’’Pulang ke Sumatera Barat sekarang sudah enak, meskipun belum semua jalan tol selesai dibangun. Tapi waktu tempuh lebih pendek,’’ kata dia.

Dia menyebut, waktu tempuh Jakarta ke Kota Palembang kini hanya 7 jam. Terpangkas hampir 10 jam dari waktu tempuh biasanya, sebelum ruas tol trans Sumatra diresmikan presiden.

Peran Penting PT Jasa Marga

Peran PT Jasa Marga sangat penting dan strategis untuk menghubungan antara wilayah di nusantara. PT Jasa Marga adalah perpanjangan tangan pemerintah untuk bisa mewujudkan jalan tol dari ujung Sabang sampai ujung Merauke.

Perusahaan ini memulai sejarahnya pada tanggal 1 Maret 1978, atau 44 tahun lalu, dengan nama PT Jasa Marga. Kemudian Tahun 1981, ditetapkan menjadi persero, sehingga namanya diubah menjadi PT Jasa Marga (Persero).

Hingga akhir Tahun 2020, PT Jasa Marga telah memegang hak konsesi atas 34 ruas jalan tol sepanjang 1.603 km di Indonesia.

Pada awalnya, selain menjadi operator jalan tol, perusahaan ini juga berperan sebagai otoritas jalan tol di Indonesia. Hingga tahun 1987, Jasa Marga adalah satu-satunya penyelenggara jalan tol di Indonesia.

Pada dekade 1990-an, PT Jasa Marga lebih banyak berperan sebagai otoritas yang memfasilitasi investor-investor swasta dalam mengusahakan jalan tol.

Tapi karena sebagian besar investor gagal mewujudkan jalan tolnya, proyek itu kemudian diambil alih oleh PT Jasa Marga.

Pada tahun 2004, setelah dibentuknya Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), PT Jasa Marga tidak lagi berperan sebagai otoritas jalan tol di Indonesia. Kewenangan penetapan tarif jalan tol pun diserahkan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)

Direktur Utama PT Jasa Marga, Surbakti Syukur mengatakan, pangsa pasar PT Jasa Marga saat ini mencapai 51 persen dari total jalan tol beroperasi di Indonesia, atau sepanjang 1.246 Km.

Direktur Utama PT Jasa Marga, Subakti Syukur

“Total konsesi jalan tol yang dimiliki oleh Jasa Marga saat ini telah mencapai 1.603 Km di seluruh Indonesia,’’ kata Surbakti Syukur akhir Tahun 2021 lalu.

PT Jasa Marga juga mencatatkan kinerja positif dengan merealisasikan lima prioritas Kementerian BUMN. Lima nilai itu adalah ekonomi dan sosial untuk Indonesia; inovasi model bisnis; kepemimpinan teknologi; peningkatan investasi; dan pengembangan talenta.

“Pencapaian kinerja positif perusahaan juga mencerminkan fokus Jasa Marga Group dalam membangun sustainable corporation,” ujar Subakti Syukur,

Untuk meningkatkan pelayanan untuk kenyamanan dan keamanan pengguna jalan tol, PT Jasa Marga meluncurkan Jasa Marga Tollroad Command Center yang merupakan pusat kendali lalu lintas jalan tol pertama dan terlengkap di Indonesia yang berbasis Intelligent Transportation System.

Selain itu, PT Jasa Marga juga meluncurkan aplikasi Travoy 3.0 yang dirancang sebagai asisten perjalanan digiGunanya, untuk membantu pengguna jalan tol berkendara di jalan tol. Aplikasi ini memberikan beragam informasi, antara lain tarif tol, panic shake hingga laporan pengguna jalan.

Jauh sebelumnya, yakni dada Tahun 2017, Jasa Marga telah mewajibkan pembayaran tol dengan menggunakan uang elektonik untuk mengurangi durasi pembayaran dan antrian di gerbang tol.

Kemudian pada Tahun 2019, PT Jasa Marga telah memberlakukan sistem pembayaran nirhenti, untuk mempersingkat durasi pembayaran di gerbang tol.

Dari sisi keuangan, kinerja PT Jasa Marga juga menggembirakan. Laba bersih PT Jasa Marga tercatat melonjak hampir 400 persen, tepatnya naik 375,5 persen (YoY) pada Kuartal III Tahun 2021 jika dibandingkan tahun 2020.

Jasa Marga mencatatkan laba bersih pada Kuartal III Tahun 2021 sebesar Rp 749,42 miliar, naik dari tahun sebelumnya yakni sebesar Rp 158 miliar. Artinya, laba bersih Jasa Marga tahun ini meningkat Rp 592 miliar dari tahun lalu sepanjang Kuartal III.

Direktur Bisnis PT Jasa Marga, Reza Febriano menjelaskan bahwa kinerja perusahaan pada Kuartal III tahun 2021 mengalami perbaikan.

Hal ini tercermin dari pendapatan usaha PT Jasa Marga yang naik sebesar 20,75 persen menjadi Rp 8,2 triliun dari periode yang sama tahun lalu, sebesar Rp 6,8 triliun.

Moncernya kinerja PT Jasa Marga itu tidak terlepas dari beroperasinya sejumlah ruas jalan tol baru. Kemudian didukung oleh meningkatnya mobilisasi masyarakat sehingga berdampak pada peningkatan volume lalu lintas, bila dibanding dengan Kuartal III Tahun 2020.

Tidak hanya itu, Ebitda PT Jasa Marga juga mengalami peningkatan sebesar 29,39 persen seiring dengan meningkatnya pendapatan tol di Kuartal III Tahun 2021.

Ebitda PT Jasa Marga kali ini tercatat mencapai Rp 5,3 triliun, lebih besar dari periode yang sama tahun lalu yakni senilai Rp 4,1 triliun. Hal itu juga menyebabkan peningkatan Ebitda margin yang mencapai 65,07 persen.

Di akhir tahun 2020, jalan tol Jasa Marga Group meraih penghargaan atas pemenuhan “Roadmap Jalan Tol Berkelanjutan” yang diinisiasi oleh Kementerian PUPR, yaitu Jalan Tol Jagorawi dan Jalan Tol Semarang-Solo.

Sebelumnya, dua ruas jalan tol lainnya yang dikelola PT Jasa Marga, memperoleh sertifikasi “Green Toll Road Indonesia”, yaitu Jalan Tol Pandaan-Malang dan Jalan Tol Gempol-Pandaan.

Kinerja yang membaik itu tentu merupakan kabar menggembirakan, karena dengan kondisi yang sehatlah PT Jasa Marga bisa melanjutkan misinya menghubungkan wilayah nusantara dengan jalan tol.

Sejak Pandemi Covid-19 melanda tanah air, seluruh sektor perekonomian mengalami masa sulit, termasuk infrastruktur konektivitas seperti jalan tol. Meski dalam situasi tak menentu seperti ini, pemerintah terus mengupayakan agar pembangunan jalan tol tak dihentikan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Membangun jalan tol membutuhkan investasi sangat besar. PT Jasa Marga yang sudah berpengalaman 44 tahun membangun jalan tol, tentu sudah piawai memainkan perannya, termasuk di bidang keuangan.

Kadang, PT Jasa Marga harus melepas sebagian sahamnya (divestasi) pada ruas jalan tertentu untuk bisa membiayai jalan tol yang lain. Langkah itu, merupakan hal yang biasa, karena merupakan salah satu strategi korporasi.

Pada Tahun 2022 ini, PT Jasa Marga juga akan melepas sebagian sahamnya di salah satu jalan tol di Jabodetabek. Hanya saja, Direktur Pengembangan Usaha PT Jasa Marga, M. Agus Setiawan, belum bersedia memberikan bocoran ruas jalan tol mana yang akan dilepas sebagian. ‘”Dana hasil penjualan saham untuk modal bagi Jasa Marga merealisasikan ruas jalan tol baru yang lain,” kata dia,

Tahun lalu, Jasa Marga telah melepas 9 persen sahamnya di PT Jasamarga Pandaan Malang yang mengelola ruas tol Pandanaan-Malang. Jasa Marga menjual 160.018 lembar saham kepada PT Astra Tol Nusantara, sehingga komposisi kepemilikan saham PT Jasamarga Pandaan Malang menjadi 51 persen milik Jasa Marga dan 49 persen milik Astra Tol Nusantara.

Jasa Marga juga telah menyelesaikan divestasi 14 persen saham di PT Marga Lingkar Jakarta kepada PT Jakarta Marga Jaya. Kini, Jasa Marga menguasai 51 persen saham Marga Lingkar Jakarta dan 49 persen dipegang oleh Jakarta Marga Jaya.

Selamat ulang tahun dan selamat berjuang PT Jasa Marga. Tidak mudah mengemban misi pembangunan yang diberikan pemerintah. Karena di satu sisi tetap harus menjaga profesionalitas. Dan di sisi lain, harus menyelesaikan amanah dari pemerintah, yang juga harapan masyarakat Indonesia yakni menghubungkan nusantara dengan jalan tol untuk mendorong pemerataan pembangunan. (desfandri)

1

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed