by

Buang Jayadi, Pewaris Gong si Bolong Meninggal Dunia

Buang Jayadi, pewaris Gong si Bolong

Depokrayanews.com- Innalilah Wainailaihi rojiun. Buang Jayadi bin Kisim (83), pimpinan Sanggar Kesenian Tradisional Gong Si Bolong, dikabarkan meninggal dunia pada hari Sabtu 17 April 2021 dan telah dimakamkan Minggu 18 April 2021 hari Mini.

Kabar duka itu pertama diposting Supardi di FB. Belum diketahui penyebab meninggalnya Buang Jayadi, karena nomor telepon kediamannya di kawasan Tanah Baru, Kecamatan Beji tidak bisa dihubungi. Buang Jayadi adalah pewaris Gong Si Bolong.

Ketika masih aktif menjalankan sanggar kesenian Gong si Bolong , Buang Jayadi sempat mengeluhkan peminat kesenian Gong Si Bolong yang kalah bersinar dari kesenian musik modern lain. Pagelaran musik Gong Si Bolong terpendam oleh musik-musik organ tunggal.

Gong si Bolong sangat legendaris di Kota Depok, meskipun ada suara-suara miring tentang tradisi itu. Bayangkan gong itu bolong pada bagian tengahnya, tapi ketika dipukul suaranya sangat nyaring. Menurut cerita-cerita dari orang tua pada saat Buang Jayadi muda, suara Gong si Bolong bisa terdengar hingga puluhan kilometer, sampai ke Cibubur. “Dulu banyak yang cerita bunyi nyaring gongnya nyaring dari Cibubur ke Kelapa Dua, Depok terdengar. Mungkin juga karena zaman dulu belum banyak kendaraan dan bangunan ya,” kata dia.

Gong Si Bolong merupakan alat kesenian berupa gong yang berbentuk bolong di bagian tengah. Kesenian Gong Si Bolong terbentuk berawal dari ditemukannya seperangkat alat musik tradisional Sunda yang ditemukan oleh alim ulama asal Cianjur, Pak Jimin, pada tahun 1648 di Kampung Tanah Baru, Depok.

Berdasarkan sejarah pada abad ke-16, Kampung Tanah Baru pada saat itu sebagain besar masih berupa hutan dan rawa. Penduduknya sangat sedikit dan umumnya bekerja sebagai petani.

Buang Jayadi bercerita di kampung Tanah Baru sering kali terdengar bunyi-bunyian suara gamelan di tengah malam. Namun ketika sumber dari suara tersebut dicari tak satu pun orang yang dapat menemukannya. Lokasi penemuannya adalah di sekitar Curug Agung di pinggir aliran sungai Krukut.

Kala itu, lanjut Buang, Pak Jimin hanya sanggup membawa sebuah gong yang bolong di tempat pukulnya, gendang dan bende. “Saat Pak Jimin kembali lagi mengajak beberapa temannya bawa gerobak untuk mengambil sisa perangkat gamelan itu, ternyata perangkat gamelan lainnya sudah gak ada,” tutur Buang Jayadi.

Tongkat estafet kejayaan Gong Si Bolong dari Pak Jimin terus berlanjut. Hingga kini ke generasi terakhir pewaris Gong Si Bolong. “Dulu pertama Sanggar Pak Jimin, lalu meninggal lanjut ke Pak Damun, Pak Anim, Pak Jerah atau dikenal dengan Pak Galung), lalu pindah ke anaknya, Saning, lanjut meninggal ke Matua Asem biasa dipanggil Nenek Asem), pindah ke Pak Iyot, pindah Pak Bagol atau Haji Bahruddin), Pak Kamsa Atmaja, dia meninggal, lalu saya diminta jadi lanjutin tanggal 30 Januari 2007,” cerita Buang.

Buang Jayadi mulai mempelajari Gong Si Bolong pada tahun 1952 ketika masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar). Menjelang akhir hayatnya, Buang masih melestarikan kesenian Gong Si Bolong, meskipun tak banyak acara yang mau menampilkan kesenian Gong Si Bolong. “Regenerasinya kurang. Gak banyak anak-anak yang mau belajar. Kalah sama budaya modern,” kata Buang Jayadi. (ris)

1

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed