by

Daendels Vs ‘Daendels’

Oleh Anif Punto Utomo
Wartawan Senior dan Penulis Buku

Mendengar nama Daendels, pikiran kita langsung ke pembangunan jalan. Ya, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808 – 1811) Herman Willem Daendels itu namanya lekat dengan pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan.

Hanya dalam waktu tiga tahun jalan sepanjang 1.000 km itu selesai dibangun dan menjadi jalan utama sampai sekarang. Jalurnya mulai dari Anyer, Tangerang, Jakarta, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon, Tegal, Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Tuban, Gresik, Surabaya, Probolinggo, dan Panarukan.

Lebih dari dua abad kemudian, muncul Daendels lokal yang pencapaiannya tak kalah mencengangkan. Dalam kurun waktu yang hampir sama, Daendels lokal membangun tol trans Jawa sehingga dari Anyer sampai Probolinggo sudah terhubungkan. Tak lama lagi jaringan tol itu akan melewati Panarukan dan tembus sampai Banyuwangi, ujung timur pulau Jawa.

Dan nantinya akan menjadi ‘Daendels’ kuadrat ketika Trans Sumatera yang memanjang dari Lampung sampai Aceh sejauh 2.400 km beroperasi. Sampai semester II tahun 2022 ini diperkirakan sudah tersambung 874 km. Semua akan selesai ketika Jokowi mengakhiri pemerintahannya pada Oktober 2024 nanti. Dulu tak terbayangkan membangun tol yang membelah Sumatera, namun ternyata bisa direalisasikan, dalam waktu singkat pula.

“Pak Basuki menjadi Bapak Daendels Indonesia. Pak Menteri PUPR dan jajarannya tidak kenal lelah, tidak kenal libur terus menerus membangun infrastruktur,” begitu kata Menteri Keuangan Sri Mulyani mengomentari sepak terjang Basuki.

Di luar Jawa, selain di Sumatera, jalan tol dibangun di Kalimantan yang melintas Balikpapan-Samarinda sepanjang 99,02 km. Kini yang sedang dirancang tol sepanjang 47 km (sekitar 1,5 berupa terowongan bawah laut) dari Balikpapan menuju Ibu Kota Negara (IKN). Di Sulawesi sebelumnya sudah ada tol di Makasaar, pada 2022 ini beroperasi tol Manado-Bitung sepanjang 39 km. Total hampir 2.000 km yang sudah dibangun dari tahun 2015-2022.

Tol yang dibangun Basuki melengkapi yang sudah dibangun oleh pemerintahan sebelumnya. Tercatat dari pembangunan tol pertama pada 1978 (tol Jagorawi) sampai tahun 2015 telah terbangun 855 km. Rinciannya, zaman Orde Baru dibangun 567 km (1978-1998), masa reformasi 13 km (1999-2004), pemerintahan SBY terbangun 275 km (2004-2014). Jika sampai 2024 sampai tembus 2.750 km berarti 10 kali lipat periode sebelumnya.

Basuki tidak setengah-setengah dalam mengawal pembangunan tol. Pada periode pertama pemerintahan, Jokowi mengatakan sudah delapan kali mengecek pembangunan tol Sumatera. ‘’Jika presiden mengecek delapan kali, menteri terkait harus datang dua kali lipat untuk memastikan target dan kualitas proyek,’’ kata Jokowi. Maka Basuki pun lebih dari 16 kali mengecek tol Sumatera.

Ia benar-benar ngecek, bukan sekadar berkunjung. Pada April lalu misalnya, di lapangan ditemui adanya lubang dan retakan di ruas Kayu Agung-Palembang dan beberapa beton pembatas tol yang anjlok, dia minta segera diperbaiki. Nanti dia akan minta anak buahnya untuk mengecek apakah perintahnya sudah dilaksanakan atau belum.

Basuki sadar bahwa pembangunan tol secara besar-besaram akan memunculkan ‘gugatan’ dari seberang. Fahri Hamzah misalnya mempertanyakan pembangunan tol menghabiskan uang negara dan tidak bermanfaat bagi masyarakat kecil?

Dengan kalem Basuki menjawab bahwa ketika membangun tol ribuan tenaga kerja bisa terserap, masyarakat sekitar juga mendapat manfaat dari yang paling dasar adalah warteg dan warung kopi yang dipadati pekerja. Dalam skala yang lebih besar menggerakkan industri semen, baja, beton, dan lainnya. Setelah jalan tol beroperasi bisnis di sepanjang tol juga tumbuh lebih cepat.

Muncul pula pertanyaan: Apa sih manfaat jalan tol? Kenapa tidak dibikin jalan yang gratis? Lewat tol biayanya mahal? Tol mematikan ekonomi UMKM di jalur arteri? Tol membikin utang BUMN karya puluhan triliun? Apa Sumatera sudah perlu tol Trans Sumatera, toh jalan belum semacet Jawa?

Bicara manfaat tol, kita bisa bagi menjadi dua yakni keamanan lalu lintas dan efisiensi.

Kalimat pembuka di atas menunjukkan efek jalan tol terhadap lalulintas. Poin pertama arus mudik 2014 ketika tol Trans Jawa belum tersambung, ratusan ribu mobil dan jutaan motor berjejal di Pantura, macet total, pengemudi kelelahan yang kemudian memicu kecelakaan, tingkat kecelakaan dan jumlah korban tinggi. Poin kedua arus mudik 2019 tol sudah tersambung (dan sebelum Covid). Terlihat terjadi penurunan korban jiwa yang signifikan.

Dari sisi efisiensi sudah tebukti baik dari sisi waktu, tenaga, maupun biaya.

Efisiensi waktu, pengalaman pengguna tol trans Sumatera, seorang pengemudi menceritakan perjalanan mudik lebaran Lampung-Palembang lewat tol cukup empat jam, dulu sebelum ada tol lebih dari 12 jam. Rute Jakarta-Surabaya nontol 17 jam, lewat tol 10 jam. Tak terbayangkan kalau lebaran Mei 2022 lalu tidak ada tol, Jakarta-Surabaya bisa berhari-hari.

Efisiensi tenaga. Perjalanan semakin singkat otomatis menghemat tenaga. Di sisi lain, mengemudi mobil di jalan non-tol membutuhkan konsentrasi tinggi sehingga menguras tenaga. Sama-sama mengemudi selama lima jam, mengemudi di jalan biasa akan lebih capek dibanding di tol.

Efisiensi biaya terlihat di penghematan BBM. Dari survei PT Jasa Marga, perjalanan Merak-Pasuruan tanpa lewat tol berjarak 981,2 km menghabiskan 115 liter BBM. Jika lewat tol hanya butuh BBM 94 liter, dan selisih waktu perjalanan 10 jam. Hasil penghematan bisa untuk biaya tol. Efisiensi BBM juga menghemat subsidi BBM. Penghematan BBM akan turut menunrunkan intensitas energi (jumlah konsumsi energi per Produksi Domestik Bruto) Indonesia yang di atas rata-rata dunia.

Berbagai efisiensi itu pada gilirannya membuat distribusi barang lebih lancar dan ongkos logistik menjadi lebih murah. Ini penting untuk menjaga agar pasokan barang tetap terjaga dengan harga yang terkendali. Kenapa selama masa pemerintahan Jokowi inflasi selalu di bawah 3,5 persen –kecuali tahun 2017 dan 2022—salah satunya karena distribusi barang lancar berkat keberadaan tol.

Kenapa tidak dibikin jalan gratis? Kebutuhan mendesak infrastuktur jalan adalah Jawa karena jumlah kendaraan terus berlipat. Jika dibangun jalan baru, akan muncul kecemburuan wilayah, kenapa Jawa lagi? Lebih baik dana untuk infrastruktur jalan itu dialokasikan ke wilayah yang selama ini ‘diterlantarkan’ seperti Kalimantan dan Papua. Jawa dan Sumatera yang akses jalan arteri sudah lengkap dan ekonominya bagus dibangun tol, wilayah pelosok dan perbatasan dibangun jalan gratis. Adil.

Lewat tol biayanya mahal? Pembangunan jalan tol dibutuhkan Rp 110 miliar tiap kilometer di trans Jawa. Tarif mengikuti biaya investasi. Tapi yang jelas tol adalah pilihan, jika tidak mau lewat tol bisa lewat jalan arteri. Ini yang dilakukan truk Jakarta-Semarang. Mereka pasti lewat tol Jakarta-Cikampek dan Palikanci karena tarif murah, jalur yang lain pilih non-tol.

Gara-gara harga ini dengan bergurau Basuki pernah mengatakan, dirinya sering melanggar undang-undang. Kenapa? ”Karena nggak menaikkan tol sesuai UU,’’ kata Basuki. Jika dia lihat pengelola jalan tol tidak memenuhi standar kelayakan minimum, kenaikan tol tidak dia tandatangani.

Tol mematikan ekonomi UMKM di jalur arteri? Tidak bisa dihindari. Dan itu yang dialami jalan Pantura dari Cikampek di Cirebon, ekonomi pinggir jalan mati. Suatu saat akan terjadi keseimbangan baru.

Tol membikin utang BUMN karya puluhan triliun? Ini juga betul. Membangun tol butuh dana besar sehingga perlu utang untuk menyelesaikannya. Celakanya, 2020-2021 dihajar covid-19, tol sepi, pendapatan berkurang, utang tersendat. Tapi dengan ekonomi yang sudah mulai pulih, utang akan terselesaikan secara bisnis, asal jangan juga ada korupsi.

Kenapa Sumatera yang belum semacet Jawa dibangun tol? Filosofi pembangunan infrastuktur jalan adalah antisipatif, bukan reaktif. Lalulintas Sumatera akan aman sampai 20 tahun ke depan. Jangan seperti di Jawa yang reaktif, jalan sudah terlanjur macet berat baru dibangun jalan tol. Ongkos ekonomi dan sosial terlanjur tinggi.
***
Persamaan Daendels dan Daendels lokal adalah sama-sama membangun jalan lintas Jawa. Perbedaannya? Saat Daendels membangun jalan, rumahnya tetap berdiri megah, sedangkan rumah Basuki menjadi korban penggusuran. Saat jalan Daendels dibangun, belasan ribu pekerja meninggal kelelahan, saat Basuki membangun tol, ribuan orang bersorak karena mendapat ganti gusur yang menguntungkan. Daendels dikenal kejam, sedangkan Basuki menurut para kolega, adalah orang yang baik hati dan tidak sombong.@

Selasa, 2 Agustus 2022

1

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *