by

Diana Dewi, ”Kuda Hitam” Pendamping Mohammad Idris di Pilkada Depok

Diana Dewi dan Mohammad Idris

Depokrayanews.com- Nama pengusaha nasional, Diana Dewi diusulkan menjadi salah satu Calon Wakil Walikota Depok, pendamping petahana Mohammadi Idris yang akan diusung oleh Koalisi Tertata Adil Sejahtera (TAS). Selain Diana, ada nama Imam Budi Hartono dan Mohammad Hafid Nasir.

Dari 3 nama yang akan dibahas oleh koalisi TAS, hanya Diana yang juga bukan orang partai. Diana adalah Ketua Kadin DKI Jakarta, tapi warga Kota Depok. Sedangkan Imam Budi Hartono adalah Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS dan Mohammad Hafid Nasir adalah Ketua DPD PKS Kota Depok.

Imam dan Hafid adalah nama yang masuk ke DPP PKS karena merupakan dua dari tiga pemenang Pemilu Raya (Pemira) PKS yang digelar tahun lalu. Satu lagi ada nama T.Farida Rachmayanti. Sedangkan nama Diana Dewi sejak awal memang sudah digadang-gadang oleh Koalisi Tertata.

Meskipun bukan orang politik, tapi Diana sangat dekat dengan tokoh-tokoh politik di Depok. Nama Diana Dewi pertama kali dimunculkan oleh Ketua DPD Partai Demokrat Kota Depok, Edi Sitorus ketika memberikan sumbangan barang kebutuhan penanganan Covid-19 di Depok. Diana menyumbang APD dan sembako senilai miliaran rupiah.

Ketua DPD PAN Kota Depok, Igun Sumarno mengakui nama Diana Dewi masuk dalam daftar nominator Calon Wakil Walikota Depok, pendamping Mohammad Idris yang dipastikan akan mendapat tiket Pilkada sebagai Calon Walikota Depok. ”Ada beberapa nama yang masuk daftar calon wakil walikota, diantaranya Diana Dewi, Hafid Nasir dan Imam Budi Hartono,” kata Igun kepada depokrayanews.com, Jumat 24 Juli 2020 malam.

Hal itu juga dibenarkan oleh Ketua DPC PPP Kota Depok, Qonita Lutfhiyah. ”Ya, nama Ibu Diana Dewi masuk dalam daftar calon yang akan kami bahas bersama di koalisi,” kata Qonita kepada depokrayanews.com, Jumat 24 Juli 2020 malam.

Baik Igun maupun Qonita mengakui nama Diana Dewi sudah muncul lama di Koalisi Tertata. Tapi karena Calon Walikota baru saja disepakati oleh Koalisi TAS, maka pembahasan selanjutnya adalah soal calon wakil walikota.

Menurut Qonita, sampai saat ini Koalisi TAS belum dapat memastikan apakah calon wakil walikota dari dalam koalisi Tertata yang telah terbentuk sejak Februari lalu ataukah akan diambil satu nama dari kader PKS.

Sementara, Calon Walikota Mohammad Idris mengatakan calon pendampingnya sebagai wakil walikota bisa saja dari kader PKS, bisa saja di luar dari 3 nama hasil pemira, atau dari luar PKS. ”Bisa saja kader PKS, bisa juga dari luar, tapi kemudian dia mewakili PKS. Bisa yang sejenis dengan saya, bisa juga yang beda jenis,” kata Idris.

Artinya, calon itu bisa satu nama yang disepakati anggota koalisi yang bukan kader PKS, tapi diusulkan atas nama TAS. Calonnya bisa laki-laki, bisa juga perempuan.

Hal itu dibenarkan oleh Igun Sumarno. Menurut Igun, saat ini status Diana Dewi bukan orang partai, tapi pengusaha. Kalau koalisi TAS misalnya sepakat mengusung Diana Dewi, bisa jadi dia atas nama PKS atau atas nama Koalisi TAS.

Hal serupa terjadi ketika Idris dipilih untuk mendampingi Nur Mahmudi Ismail 10 tahun lalu. Ketika itu, Idris bukan orang partai, apalagi orang PKS, karena Idris adalah seorang akademisi.

”Diana Dewi bisa jadi ”kuda hitam” pendamping Mohammad Idris, meskipun Imam Budi Hartono dan Mohammad Hafid disebut-sebut sebagai calon kuat,” kata seorang pengurus partai politik di Depok. Apalagi PDI Perjuangan memasang Afifah Alia sebagai calon wakil walikota pendamping Pradi Supriatna.

”Jadi kalau menggunakan strategi politik, bisa jadi Koalisi TAS akan memilih perempuan juga sebagai calon wakil walikota. Apalagi pemilih perempuan sangat besar di Kota Depok. Kedua perempuan itu sama sama berlatar belakang pengusaha, Afifah pengusaha properti, sedangkan Diana Dewi adalah Ketua Kadin DKI Jakarta, jaringan dan kiprahnya sudah sangat jelas,” kata dia. (red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed