by

Kejahatan yang Teroganisasi Dapat Mengalahkan Kebenaran

Oleh: Dindin Machfudz *)

DALIL atau aksioma atau idiom yang berasal dari kumpulan khutbah Sayidina Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah dalam Nahjul Balaghah tersebut di atas terus terngiang dan terus terbukti kebenarannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Dalam hal ini sebut saja kasus Ferdy Sambo yang terlanjur viral yang melibatkan seratusan personel Polisi “geng”-nya dalam kasus pembunuhan Brigadir J, termasuk terbongkarnya keberadaan Satgassus Merah Putih yang kuasanya nyaris tak terbatas baik di internal Polri maupun di institusi penegak hukum lainnya.

Indikasinya adalah dibebaskannya oknum Polisi terdakwa kasus pembunuhan 6 korban warga FPI di KM 50 oleh pengadilan. Modusnya sama pisan yaitu : rekaman CCTV hilang atau rusak disambar geledek, ditambah locus atau TKP yang dirusak, dan alibi atau dalih yang mengesahkan si terbunuh wajar untuk dilenyapkan karena melawan petugas Polisi sebagai pembenaran (extra judicial killing). Hal ini kiranya boleh dikata nyaris mirip “geng Mafia” di Italia atau “Yakuza” di Jepang.

Yang fantastis dan sekaligus bikin melongo adalah aset atau koleksi dananya yang tersimpan di rekening bank BNI mencapai 100 triliun rupiah dari setoran bandar judi liar online, bandar narkoba, bandar prostitusi dan dana haram lainnya, sebagaimana diberitakan aneka media dan youtube.

Komjen Pol Purn Susno Duadji menyebutnya “Sambo Gate”, untuk membedakan dengan kasus “Ismail Bolong Gate” yang nilai dananya super jumbo, sebarannya melibatkan lebih banyak pihak baik internal Polri maupun eksternal, yang terjadi di sektor pertambangan : batubara, emas, nikel, bauksit, timah.

Kasus lainnya adalah ketika kita bangsa Indonesia dikejutkan oleh pernyataan kontroversial Megawati Sukarnoputri bahwa Pancasila itu sudah tidak “cucok” dengan perkembangan zaman dan karenanya kudu diperas menjadi Trisila dan bahkan Ekasila yang berjuluk Gotong Royong (youtube).

Sebuah praktik pemerasan yang tidak klop alias tidak shahih, sebab inti atau esensi “perasan” term Pancasila tersebut semestinya menurut konsep berpikir Logika Argumentasi atau berpikir logis- rasional-dialektika adalah : Ketuhanan Yang Maha Esa, sebab Tuhan merupakan Causa Prima atau Substansi sumber segala yang ada di bumi dan di langit, Maha Pencipta Makhluk-Nya : Manusia-Jin/Iblis-Malaikat dengan peran fitrahnya masing-masing.

Ringkasnya, praktik memeras Pancasila menjadi Ekasila itu dalam ilmu berpikir disebut “Ignoratio Elenchi”, yakni kekeliruan berpikir yang terjadi lantaran orang menghindar dari persoalannya, dan membuat kesimpulan yang tidak berhubungan. Biasanya lalu menggunakan prasangka dan cara-cara emosional, tidak “ad rem” (Dr W. Poespoprodjo, Logika Scientifika – Pengantar Dialektika Ilmu, 1999, hal 255).

Selanjutnya kalau masih mau ditambahkan contoh lain tentang ujaran sakti “kebatilan yang terorganisir dapat mengalahkan al-haq yang tidak terorganisir” adalah proses pembentukan dan pengesahan undang-undang yang berjuluk Omnibus Law di parlemen yang heboh dan menyisakan kontroversi hingga hari ini, terutama buat kaum buruh dan kalangan ekonom dan pertambangan.

Di sini terkesan hukum seakan dibuat hanya untuk menyenangkan penguasa dan oligarki belaka dengan sekedar terpenuhinya syarat atau prosedur yuridis formalnya. Mereka seakan tidak peduli apakah hukum atau undang-undang dimaksud secara material mengandung kezaliman atau ketidak-adilan.

Padahal secara hakikat hukum itu sekurangnya harus mengandung kebaikan, keadilan, menyenangkan, memanusiakan manusia, menunjukkan jalan ke arah kebahagiaan, demi ketertiban bersama, berkekuatan memaksa sebab kalau tidak hukum hanya ditaati oleh orang baik dan dilanggar oleh orang jahat, taat asas, merupakan produk akal sehat, dan harus dipermaklumkan kepada publik (Summa Theologica dalam Dr W Poespoprodjo, Filsafat Moral, 1986, hal 149 – 150).

Kesemua itu terjadi lantaran kita semua lengah. Membiarkan sesuatu yang batil mengorganisasi diri untuk membentuk kuasa, wewenang dan kekuatannya serta jaringan-jaringan sindikatnya. Dan tentu saja masih ada beberapa contoh kasus lainnya, tapi tokh “nasi sudah menjadi bubur”. Yaitu sebut saja gegara ambisi dan syahwat berkuasa yang melimpah dan menggelegak hingga tak peduli tata kepatutan bernegara dan rasa malu sekali pun hal itu jelas-jelas menabrak konstitusi UUD 1945.

Tokh, mereka tetap saja bergerak hendak mengamandemen Konstitusi (khususnya pasal 7 UUD 1945) dengan tujuan : mengubah jabatan Presiden dari dua periode menjadi tiga periode atas dasar ‘wangsit’ yang berjuluk ‘Big Data’.

Ringkasnya, sebuah rekayasa politik yang membahayakan bangsa, yang memecah persatuan dan kesatuan bangsa kita hanya demi ‘seupil’ ambisi berkuasa. Padahal Cak Nun atau Emha Ainun Najib pimpinan taklim Padhang Bulan asal Jombang dalam salah satu youtube-nya berkomentar : “Lah, dua kali saja gagal, eh, minta tiga kali.”

Sesungguhnya bilamana kita mau menekuni GCG atau Tata Kelola Pemerintahan yang baik yang diajarkan para Nabi yang merangkap Raja/ Kepala Negara, bakal terhindar dari berhala keserakahan, kerakusan dan kejahiliyan. Yaitu dengan menjadikan Nabi Daud As yang adil, Nabi Sulaiman As yang memiliki pasukan jin/iblis dan pasukan burung dengan kendaraan dinasnya berupa angin, Nabi Yusuf As yang piawai dalam hal ketahanan pangan, dan tentu saja Nabi Muhammad Saw yang mumpuni yang merangkap Kepala Negara, Hakim Agung, Perancang Konstitusi Piagam Madinah yang visioner, serta Panglima Perang jenius dan Komunikator fasih hingga getaran dakwahnya terasa hingga 14 abad kemudian. Bukan menjadikan raja lalim Fir’aun dan Namruz sebagai role model dalam mengurus negara.

***
ASLINYA ungkapan masyhur Khalifah Keempat Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib tersebut adalah sebagai berikut :
“Al-Haqqu bila nidzomin Yaghlibuhul Bathilu bin-nidzomi – Kejahatan yang terorganisasi dapat mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisasi”.

Pepatah atau nasihat mulia yang kadung mengglobal tersebut merupakan tulisan seorang ulama bernama Musthafa Sabri yang mencuplik dari pidato Amirulmukminin yang bergelar “Pintu Gerbangnya Ilmu Nabi Saw” (Hadis Riwayat Bukhari – Muslim). Lengkapnya hadis Rasulullah adalah : “Ana madinatun ilmu wa aliyyun babuha – Aku kotanya ilmu dan Ali gerbangnya ilmu Nabi, barangsiapa ingin berilmu laluilah pintu Ali.”

Pidato Amirulmukminin tersebut disampaikan di depan pasukannya yang sebagian mengalami keraguan untuk berperang, yaitu sebagai berikut :

“Alangkah anehnya! Karena hati yang sudah mati dan hanya meninggalkan kesedihan yang tak terhingga. Padahal mereka yang pada dasarnya kebatilan dapat bersatu dan kamu yang berdasarkan kebenaran terpecah-belah, sehingga kamu menjadi sasaran bencana yang menimpa kamu, kamu diserang tanpa dapat menyerang. Kamu telah berbuat durhaka kepada Allah, sedang kamu berharap-harap akan mendapat karunia.”

Dalam kesempatan lain Amirulmukminin selalu menegaskan bahwa visi dan misinya adalah menegakkan kebenaran, keadilan dan persatuan umat Islam.

Suami Fatimah Az-Zahra ini oleh sejumlah Sejarawan dinilai sosok yang istiqomah, zuhud, berpegang teguh kepada kebenaran, adil, jujur, terus terang dan tegas dalam berbicara dan bertindak, tak suka berliku-liku dan tak suka main politik atau mau berkompromi dalam mempertahankan kebenaran (Ali Audah, Ali bin Abi Thalib, 2003, Cet 1, hal 240).
Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib adalah mantu dan murid Nabi Saw yang cerdas dan zuhud atau hidup bersahaja sebagaimana Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khathab. Ia juga ahli tafsir Qur’an dan hadis, ahli mantiq, filsafat, nahwu sharaf, serta guru bagi Abdullah ibnu Abbas sepupunya.

Bagi Imam Ali, kebenaran dan keimanan pada ajaran agamanya adalah di atas kepentingan politik, sekalipun yang demikian sering merugikan perjuangannya.

Menurut Dr Ali Audah, sebagai penanggungjawab umat dan kepala negara, mau tak mau ia harus terjun ke tengah-tengah kancah politik praktis, dan dalam beberapa hal, seperti perang, politik tidak mungkin lepas dari taktik dan strategi. “Politik adalah ilmu cara memperoleh keuntungan, yang tidak jarang harus mengorbankan orang lain. Politik adalah kekuasaan. Konsekuensinya, jika tak mau begitu, jangan berpolitik, jangan memegang kekuasaan. Ali memang bukan orang politik,” tulis Ali Audah dalam bukunya.

Dan sejak awal Imam Ali memang selalu menghindar dari dunia politik praktis yang penuh tipudaya dan jebakan serta berbagai manuver dan intrik. Imam Ali ingin fokus kepada dunia pendidikan, khususnya pendidikan akhlak umat yang bersumber kepada Al-Qur’an dan Hadis.

Ada pun kalimat Khalifah Ali yang kemudian menjadi “viral” itu merupakan bagian dari berbagai ungkapannya ketika bertikai dengan Gubernur Damsyik atau Damaskus, yakni Muawiyah bin Abu Sufyan, setelah pelantikan dan pembaiatan Amirulmukminin di Masjid Nabawi Madinah oleh para Sahabat Nabi Saw, kaum Muslimin yang datang dari berbagai kota, dan terutama para veteran perang Badar tahun 624 Masehi dan Sepuluh Sahabat serta Tujuh Puluh Sahabat Nabi yang dijamin masuk Surga yang oleh Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam digelari “Al-‘asyarah al-mubasysyarah”.

Perang tersebut dikenal sebagai perang Siffin yang berlangsung di dekat sungai Eufrat di perbatasan Irak dan Syria atau bekas jajahan Persia dan Romawi. Kedua tokoh mula-mula saling berkirim surat, lalu saling berkirim utusan. Intinya, Khalifah Ali meminta Gubernur Muawiyah untuk turut membaiat dirinya menyusul baiat oleh para Sahabat Nabi lainnya.

Tapi Muawiyah tidak bergeming. Dirinya hanya akan membaiat Imam Ali bilamana Khalifah Keempat itu mengusut, menangkap dan menghukum terduga pelaku pembunuhan Khalifah Usman bin Affan di kediamannya. Ali tahu betul bahwa itu adalah sebuah dalih atau siasat Muawiyah belaka untuk membangkang dan memberontak kepada dirinya selaku Amirulmulminin. Bahkan mengajaknya berperang. Sebab mengusut siapa pelaku pembunuh Amirulmukminin Usman adalah salah satu prioritasnya di samping menegakkan kebenaran, keadilan, persatuan umat. Lagi pula sesungguhnya yang berhak menuntut hak itu adalah putra-putri Khalifah Usman, sedangkan yang berhak menghukum adalah Khalifah sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam memimpin negara, dan sama sekali bukan wewenang Gubernur.

Lantas untuk mengantisipasi pembangkangan dan pemberontakkan sang Gubernur yang dikenal gemar kemewahan dan kekuasaan itu, Imam Ali segera memindahkan Ibukotanya dari Madinah ke Kuffah, Iraq, bersama pasukannya. Lantaran ia tidak mau mengotori kota suci Nabi tersebut dengan pertikaian dan perang pasca pembunuhan Khalifah Usman.

Dan betul saja, karena tidak tercapai kesepakatan perdamaian dan keutuhan persatuan umat Islam, perang sesama Muslim pun pecah pada tahun 657 Masehi. Dalam konteks inilah Khalifah Ali teringat akan kata-kata Khalifah Pertama Abu Bakar as-Siddiq, yaitu : “Hati-hatilah terhadap orang-orang tertentu dari sahabat Rasulullah Saw yang serakah memburu harta dan berambisi mencari kedudukan. Mereka hanya mementingkan diri sendiri. Anda harus bertindak keras terhadap mereka jika di antara mereka ada yang tergelincir. Ketahuilah, mereka akan takut kepada Anda selama Anda takut kepada Allah.”

Untuk menghindari jatuhnya korban di kedua belah pihak, Amirulmukminin menawarkan duel pedang saja kepada duet pembangkang itu. Tapi baik Muawiyah maupun Amir bin Ash yang bergabung setelah tak menjabat Gubernur Mesir, bungkam. Tidak merespons. Sebab keduanya menyadari bahwa Ali adalah pendekar pedang yang belum terkalahkan di Jazirah Arab dengan pedangnya yang bergelar Zulfikar pemberian Nabi Saw.

Singkat cerita, dalam perang yang melibatkan ratusan ribu tentara itu, pasukan Khalifah Ali yang dipimpin Panglima jenius Malik Al-Asytar (Malik bin al-Haris) berhasil memukul mundur pasukan Muawiyah di sektor pinggir sungai Eufrat yang dipimpin oleh Amir bin Ash yang bersama Panglima Khalid bin Walid pernah membebaskan Jerusalem di era Khalifah Umar bin Khathab.

Demikian pula pasukan Amirulmukminin yang dipimpin oleh Panglimanya yang kawakan dan terkenal Ammar bin Yassir, veteran Badar. Sampai suatu saat Ammar kelelahan dan haus. Beliau minta minum untuk berbuka puasa dan tiba-tiba di antara prajuritnya menyeruak memberinya wadah minuman berisi susu warna putih. Diminumnya susu itu dan seketika ia teringat akan kata-kata Rasulullah yang pernah didengarnya langsung, “Minuman terakhir yang akan kau minum di dunia adalah air susu.” Rasulullah juga pernah berkata kepada Ammar : “Selamat datang orang suci bersih yang sudah disucikan.”

Dan yang paling utama adalah ucapan Rasulullah yang didengar oleh Ammar dan para sahabat Nabi, yaitu begini : “Ammar akan dibunuh oleh sekelompok orang zalim.” Malamnya dalam peperangan ini Ammar bin Yasir pun gugur sebagai syuhada. Apa yang dikatakan oleh Rasulullah adalah Al-Haq atau kebenaran yang berasal dari Wahyu Allah. Dan otentik. Berlaku kekal abadi di dunia dan di akhirat.

Nah, segera saja terjadi keguncangan. Para sahabat Nabi, veteran Badar, dan kaum Muslim yang tengah berada di medan pertempuran dan sekitarnya bergerak dan bergabung dengan pasukan Khalifah Ali. Juga diam-diam sebagian dari pasukan Muawiyah.

Mereka menilai pasukan Amirulmukminin-lah yang diridhoi Allah yang mengemban kebenaran sejati. Bukan Muawiyah yang pengetahuan Islamnya, dedikasinya, keshalihannya dan perjuangannya belum menyamai Imam Ali. Muawiyah adalah termasuk kaum Tulaqa atau mereka yang memeluk Islam setelah Amnesti umum Rasulullah dalam pembebasan kota Mekah tahun 630 M. Dan kaum Tulaqa tidak berhak menjadi Khalifah pengganti Rasulullah, demikian keyakinan sahabat Nabi ketika itu.
Lantas Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib mengangkat jenazah Ammar dengan perasaan duka mendalam lalu mensholatkannya bersama umat Muslim.

Perang Siffin ini, plus-minus dimenangkan atau nyaris dimenangkan oleh pasukan Khalifah Ali. Bahkan disebutkan Amir bin Ash sempat lari setelah kalah dalam duel pedang melawan Asytar. Demikian pula Muawiyah hampir lari meninggalkan medan tempur, tatkala Amir mengusulkan dan memerintahkan pasukannya untuk mengacungkan tombak-tombaknya dan menempelkan mushaf Al-Qur’an pada ujungnya.

Lantas, apa hasilnya atau reaksinya?! Kedua pasukan tiba-tiba berhenti berperang. Itu adakah tanda pengakuan bahwa mereka sesama Muslim dan segera berdamai, hal yang selalu ditolak oleh Muawiyah. Ali menilai hal itu sebuah muslihat atau tipu-tipu pihak Muawiyah saja. Keinginan berperang sebagian prajurit yang terlibat perang mengendor.

Laga itu sudah makan waktu berbulan-bulan. Prajurit sudah kelelahan. Lagi pula mereka sesama saudara Muslim. Darahnya haram. Selain itu pasukan Romawi siap hendak mencaplok kembali kawasan bekas jahahannya itu. Sementara sebagian pasukan Ali, yaitu kelompok Khawarij memutuskan mundur.

Kemudian disepakati untuk berunding atau “tahkim”. Dalam tahkim ini terjadi kecurangan. Amir bin Ash memperdayai atau mencurangi Abu Musa dalam kesepakatan untuk memecat Ali dan Muawiyah dari jabatannya entah dari mana wewenang atau otoritas tersebut diperoleh.

Sewaktu Abu Musa sudah menyatakan saya memecat Imam Ali, Amir malah mengatakan setuju dan mendukung pemecatan tersebut, dan selanjutnya Amir malah mengangkat Muawiyah sebagai Khalifah. Tentu tipudaya ini ditolak oleh umat Islam, dan karenanya sejarah mencarat : Muawiyah bukanlah Khalifah Pengganti Rasulullah sebagaimana empat Khalifah sebelumnya.

Imam Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhah tetap menjabat Khalifah sampai akhirnya beliau gugur terbunuh sebagai syuhada sesaat akan mengimami sholat Subuh di Masjid Kuffah oleh pentolan kaum Khawarij, Abdullah bin Muljam. Beliau ditebas pedang mengenai kepalanya dari keningnya hingga tembus ke kepala belakang. Dua hari kemudian Amirulmukminin pun wafat. Tepatnya pada subuh 17 Ramadhan 40 Hijriah atau 24 Januari 661 dalam usia 61 tahun. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun.

Amirulmukminin gugur persis seperti nasihat atau dalilnya. Beliau terbunuh oleh kelompok orang batil yang ganas dan licik.

Pemikir dan ilmuwan sejarah Ibnu Khaldun pernah berujar sejarah akan selalu terulang. Itu sesuatu yang benar dan shahih. Cuma orangnya yang berbeda. Juga locusnya. Wataknya atau karakternya sama persis. Tinggal terserah kita mau memilih role model yang mana : Nabi Muhammad Saw dan Nabi Sulaiman As atau Raja Namruz dan Fir’aun?!

Bisa juga memilih para Khalifah Rasyidin sebagai role model Kepala Negara merangkap “Wali Allah”. Wali Allah, menurut Prof Dr Asep Usman Ismail, Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Jakarta adalah “Orang yang dekat dengan Allah, sahabat Allah, dan kekasih Allah dengan curahan “karomah” Allah Swt. Lawannya adalah “Wali Setan”, yaitu orang yang dekat dengan setan, sahabat setan dan kekasih setan dengan “kesaktian” berupa sihirnya yang notabene adalah tipu-tipu”. Dalam QS Yunus : 62-64 Allah menegaskan : “Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.”

Ada pun kita bangsa Indonesia per hari ini ke depan membutuhkan tokoh pemimpin yang dekat dengan Allah, sahabat Allah, kekasih Allah plus yang dekat dengan rakyat, sahabat rakyat, kekasih rakyat dengan pemikiran yang mengglobal dan negarawan sejati. Ini sejalan dengan kehendak luhur kita sebagai bangsa besar, yaitu hadirnya politik yang bermartabat.

*)Dindin Machfudz
Jurnalis Senior/Wapemred Majalah Eksekutif Jakarta, 1990/Penulis Buku From Astra To Baitullah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed