by

Menakar Kritik dan Nasib Kritikus Rocky Gerung

Oleh Dindin M. Machfudz,
Pemerhati Komunikasi, Interaksi dan Keadilan

HEBOH gegara diksi atau ucapan pemikir kritis logika dan filsafati Rocky Gerung terus berlanjut.

Relawan dan simpatisan Presiden Jokowi bergantian mendatangi Markas Polda Metro Jaya dan Polda lainnya guna membuat Laporan Polisi (LP). Jumlahnya konon sudah mencapai 30-an LP.

Bahkan ada pula yang berlebihan alias ekstrim, yaitu menggugat agar tergugat Rocky Gerung atau terlapor dilarang berbicara seumur hidupnya di semua acara diskusi di wilayah NKRI.

Lah, wong Allah Tuhan Yang Maha Pencipta Manusia saja menganugerahi mulut beserta segenap instrumennya semisal tenggorokan hingga lidah, langit-langit, gigi, bibir beserta miliaran sarafnya yang terhubung ke otak kiri tiada lain dimaksudkan untuk berbicara – di samping untuk mengunyah makanan tentunya.

Dan Allah secara lugas menegaskan : “Dia (Allah) menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara” dalam wahyu-Nya yang agung dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rahman/Ayat : 3 – 4.

Satu lagi yang termasuk ekstrim adalah diksi dan ucapan Kepala KSP Jenderal Purnawirawan Moeldoko yang berisi ancaman terbuka di depan publik. Mirip sikap dan perilaku militer kuno di “zaman baheula” atau di benua Afrika sana : Berangasan dan galak.

Dalam studi Ilmu Komunikasi model komunikasi ala Moeldoko demikian disebutnya gaya “komunikasi koersif”. Model atau gaya berkomunikasi demikian kerap dipraktikkan di negara fasis semisal di Jerman oleh Kanselir Adolf Hitler dan di negara komunis, sebut saja di RRC oleh rezim Mao Zedong yang menyebabkan terbunuhnya 20 juta warganya selama berlangsung gerakan pembersihan kaum antikomunis “revolusi kebudayaan” tahun 1966 – 1969.

Demikian sekilas potret dinamika reaksi, efek, feedback dan respons yang reaktif dan kekanak-kanakan serta emosional dalam menanggapi sebuah kritik di negeri tercinta.

De facto, terdapat proses pergeseran dan kemunduran yang mengkhawatirkan dalam menjalani proses berdemokrasi dan kebebasan berekspresi yang dijamin oleh konstitusi UUD 1945. Sehingga karenanya perlu segera dikembalikan kepada relnya, termasuk inti kritik Rocky Gerung yang telah diselewengkan dari substansi atau esensinya : yaitu menyangkut IKN alias Ibu Kota Negara dan Omnibus Law Cipta Kerja yang menyengsarakan rajyat, utamanya kaum buruh.

Padahal Presiden Jokowi sendiri sudah menyikapi kritikan dan diksi Rocky dengan tenang saja, tuh. Bijak. Katanya, “Itu masalah kecil. Saya lebih fokus ke pekerjaan dan tanggung jawab saya.”

Nah, tanggapan dan jawaban Jokowi tersebut terasa arif dan bijak. Tidak ngawur seperti relawan Jokowi atau orang-orang yang mroso dekat dengan Presiden Jokowi yang berperilaku “over-acting” tenan.

Semestinya pula sikap Presiden Jokowi ini yang perlu “digugu dan ditiru”.

Sikap yang sama juga diperlihatkan Jokowi dalam kasus tudingan Ijazah palsu serta tudingan suap dari kalangan “taipan” kepada bisnis anak-anaknya yang disebut “pemberian lantaran terkait posisi jabatan sang ayah”. Coba kalau saja ayahnya bukan Presiden RI, ulas pengritik, tak akan ada pemberian atau penyertaan modal demikian.

Tentunya, sang Taipan “baik hati” itu akan lebih bermartabat dan bermanfaat jika kapital tersebut diberikan saja kepada anak buahnya atau karyawannya, atau karyawan purnakaryanya.

Dalam studi Logika Argumentasi atau Ilmu Mantiq dalam Islam, sikap ekstrim seperti di atas yang dilakukan relawan Jokowi itu disebut bersumberkan pada “Passi” atau hawa nafsu manusia. Yaitu kesalahan dalam berpikir tersebab oleh “Cinta Diri” atau “Self-Love”.

“Secara alami atau “kodrati” kita manusia memang suka akan sanjungan atau kata-kata yang menyanjung diri kita, sahabat-sahabat kita, kelompok kita, golongan kita, dan secara apriori mencampakkan hal-hal yang agak meremehkan kita atau sahabat kita termasuk boss kita. Lalu dengan gagah berani menampik segala yang melawan opini atau purbasangka kita”.

Hal lain lagi yang juga menimbulkan kericuhan dan kerancuan berpikir dan bersikap kekanak-kanakkan demikian adalah disebabkan karena “Kecongkakkan”. Demikian bilamana kita merujuk kepada tulisan Dr Wasito Poespoprodjo, L.Ph., Dosen Seskogab TNI tahun 1990-an dan Fikom Unpad dalam bukunya yang masyhur “Logika Scientifika”, 1999.

Ada pun menurut Ulama besar Imam Al-Hakim Al- Tirmidzi (205 – 320 Hijriah/827 – 942 Masehi), sang ahli diksi bahasa Arab, penyakit hati dan ilmu tasawuf merangkap filsuf etika Islam, kesalahan memahami pikiran atau kritik adalah disebabkan kurang pahamnya akan makna dasariah kata-kata serta konsep pemikiran secara benar. Lebih lanjut Imam At-Tirmidzi mengingatkan bahwa menangkap makna-makna di balik bentuknya itu penting. Mereka, para pemikir kritis, itu tahu bahwa yang dicari itu bukanlah bentuk luar, melainkan makna batin yang lebih dalam. Makna-makna itu hanya bisa ditangkap dengan hati. Ketika mereka (orang berilmu dengan derajat tinggi) sanggup menyelami makna-makna terdalam segala sesuatu, maka mereka ikut terlibat dalam makna-makna itu. Hal ini selaras pisan dengan ungkapan Nabi Saw dalam hadisnya : “Setiap ayat mempunyai bentuk lahir dan makna batin. Setiap huruf mempunyai batas akhir dan awal permulaan,” (Hadis riwayat Ibn Hanbal, Malik, al-Nasa’i dan Al-Tirmidzi).

Suatu teks, diksi atau narasi memang dapat dimaknai berbeda oleh setiap komunikan/audiensnya bergantung latar budaya, pendidikan, keyakinan, purbasangka, paham pemikiran yang dianutnya serta kedewasaan atau level berpikirnya yang dalam studi Ilmu Komunikasi disebut Frame of Reference (FoR) dan Field of Experience (FoE). Secara gamblang Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad Prof Deddy Mulyana mengungkapkan bahwa fenomena-fenomena komunikasi antara komunitas-komunitas berbeda budaya tampaknya semakin rumiit sejalan dengan semakin beragamnya konsep diri, minat, kepentingan, gaya hidup, kelompok rujukan, sistem kepercayaan, dan nilai-nilai yang berkembang,” (Prof Deddy Mulyana, Ph.D, Komunikasi Efektif – Suatu Pendekatan Lintas Budaya, 2004, halaman XI).

Dalam kasus kritik Rocky ini tampaknya gapnya berputar di kisaran level of thinking, kultur dan paham pemikiran serta kepentingan yang berbeda atau bersebrangan, di samping congkak tadi.

Selanjutnya bilamana kita mengacu kepada analisis Komunikasi yang kritis, maka timbulnya kritik atas kritik Rocky terjadi pada Content Analysis dan Communicate Analysis serta Communicator Analysis. Hal ini sejalan pula dengan pemahaman bahwa diksi, narasi, kalimat atau perkataan itu merupakan bagian dari pilar pokok atau instrumen pokok telaah Ilmu Komunikasi.

Dalam Al-Qur’an sebagai kalimat Allah yang suci, agung, otentik, original, final, kekal abadi, mengajarkan perlunya dan pentingnya kita berhati-hati dalam berbicara atau berkomunikasi. Lsntss Allah Yang Mahasuci berfirman : “Perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan ini untuk manusia agar mereka selalu ingat,” QS Ibrahim/14 Ayat : 24 – 25.

Begitu pun sewaktu Allah menugaskan Nabi Musa As dan Nabi Harun As untuk menemui Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan tertinggi, Allah berpesan begini :
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena sesungguhnya dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut,” QS Thoha/20 Ayat : 43-44.

***

BELAKANGAN ini memang semakin banyak orang menggunakan Fakultas Berpikirnya untuk membenarkan sesuatu yang sesat alias mis-proporsional. Lihat saja pemakaian Undang Undang ITE untuk menjerat Ustadz Maheer yang akhirnya meninggal di dalam tahanan, padahal dia dijerat hanya dengan hukum administratif Ujaran Kebencian dalam UU ITE, yang sejak awal, kata Pakar Hukum Pidana Prof Andi Hamzah, mengandung cacat bawaan’ sebab hukumannya terlampau tinggi dibanding hukuman pidana. Lihat pula pengadilan dan vonisnya yang dikoreksi oleh Mahkamah Agung atas dua petugas Polisi terdakwa kasus Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang penonton sepak bola baru-baru ini.

Juga korting hukuman pidana terhadap Ferdy Sambo dari hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup oleh Mahkamah Agung. Lihat pula Omnibus Law yang dipaksakan oleh legislatif bersama eksekutif, meski mendapatkan penolakan keras dari publik khususnya kaum buruh hingga hari ini.

Juga keputusan aneh Mendikbud dan Ristek Nadiem Makarim tentang pencabutan gelar Profesor terhadap dua Guru Besar UNS Solo gegara keduanya membongkar kasus korupsi di kampusnya. Juga tentu saja tentang tindakan Presiden Jokowi yang meminta maaf kepada PKI padahal PKI ini pelaku tindak biadab pembunuhan 6 Jenderal terbaik TNI hanya dalam semalam serta terbunuhnya ribuan ulama dan umat Islam jelang peristiwa berdarah Madiun 1948 dan Gestapu PKI 1965.

Padahal dua Jenderal Sekutu saja tewas terbunuh dalam perang di Surabaya pada Oktober 1945, kota buaya itu “dibumi-hanguskan” pasukan Sekutu hingga jatuh korban puluhan ribu pemuda kita gugur dan ribuan tentara Inggris tewas pada peristiwa Surabaya 10 November 1945. Padahal pasukan sekutu itu pemenang Perang Dunia Kedua di kawasan Pasifik. Tapi di Surabaya mereka kehilangan ribuan serdadunya justru setelah Perang Dunia II berakhir.

***

SESUNGGUHNYA, apa sih kritik itu?! Kritik adalah proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu pernyataan, kebijakan, opini dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, perluasan apresiasi, perbaikan atau koreksi. Kritik berasal dari bahasa Yunani “Kritikos” yang bermakna “dapat didiskusikan”. Demikian memurut Wikipedia.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) : Kritik adalah kecaman atau tanggapan yang disertai uraian dan pertimbangan baik-buruk terhadap suatu hal kerja atau pendapat dan sebagainya.

Kritik lahir lantaran “oto kritik” tidak berjalan alias nihil atau memandang dirinya sudah benar. Memandang orang lain lebih rendah posisinya.

Seiring dengan itu terjadi pula pergeseran doktrin filsafati dari penghormatan kepada nilai-nilai moral dan kemuliaan kepada paham pemikiran kebendaan atau materialisme, hedonisme, pragmatisme, liberalisme, kapitalisme, bahkan komunisme.

Di sinilah apa yang disinyalir wartawan kawakan Mochtar Lubis terasa benar adanya. Lubis bilang ada 6 ciri manusia Indonesia, yaitu :
1. Hipokrit alias munafik, 2. Enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, 3. Berjiwa feodal, 4. Percaya tahayul, 5. Artistik, 6 Watak yang lemah (Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, 1977).

Alfa – Omega, esensi atau substansi kritik yang sesungguhnya penting dan urgent dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa menjadi kandas. Kritik yang merupakan “early warning” akan adanya keganjilan dan kekeliruan, kandas. Budaya koreksi dan diskusi yang sehat, adu argumentasi yang kritis, logis, rasional, dialektis pupus karenanya. Meskipun pada dasarnya sebagian orang memang tidak suka akan kritik. Karenanya pula kita harus fasih dalam berkritik-ria. “Kritik haruslah menjauhi dari tindakan yang irrasional,” tulis Prof Astrid Sunarti Soenario dalam tulisannya “Kritik Sosial”. Atau menurut Riyono Pratikno, dosen Fikom Unpad, “Kritik janganlah menyerang harga diri orang yang dikritik, melainkan kritiklah pemikirannya atau kebijakannya.”

Kesemua itu memungkinkan kita untuk selalu memperhatikan “How” kritik itu dilakukan, dan bukan semata hanya memperhatikan “What” yang harus dikritik. Terkadang “How” itu menjadi lebih penting ketimbang “What” tadi (Dindin M. Machfudz, Kritik dan Kritik, Kompas edisi 20 Oktober 1980).

Dan Allah mengajarkan kepada hamba-Nya perkataan-perkataan yang benar (qaulan sadida), perkataan yang baik (qaulan ma’rufa). dan perkataan yang lembut (qaulan layyinah).

Lantas, bagaimana akhir kritik yang dilancarkan Rocky Gerung? Apakah akan berakhir di pengadilan dan divonis penjara?! Allahu’alam bishowab.

Kita kawal terus kasus kebebasan berpikir dan berekspresi ini. Bilamana kemudian masuk ranah hukum, maka ujungnya tergantung pada kecerdasan, integritas moral dan integritas profesional sang hakimnya. Yang pasti adalah janganlah hukum dijadikan alat penggebuk bagi oposisi, kritikus, dan cerdik pandai. ☆☆

1

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *