by

Menkeu Sri Mulyani Ngeri, Tekanan Inflasi akan Hambat Pertumbuhan Ekonomi Global

DEPOKRAYANEWS.COM – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan rasa ngerinya melihat faktor-faktor global yang akan menghambat pertumbuhan ekonomi di tahun 2022.

Menurut Sri Mulyani, ketidakpastian global itu membuat seluruh negara berada pada kondisi tidak mudah.

Faktor itu adalah tekanan inflasi, rendahnya pertumbuhan ekonomi, dan potensi krisis di negara-negara berkembang.

“Tekanan inflasi terus berlanjut dan membuat negara-negara dunia membentuk respons, ini menciptakan lingkungan yang tidak mudah bagi seluruh negara, terutama untuk negara berkembang dan negara emerging,” kata Sri Mulyani dalam Mandiri Investment Forum 2022 di Jakarta, Rabu 9 Februari 2022.

Menurut Ani, sapaan Sri Mulyani, tekanan inflasi membuat beberapa negara di dunia mulai menurunkan suku bunga acuan.

Di Brazil, misalnya, bank sentral setempat menurunkan suku bunga acuan ke level 10 persen mengingat tingkat inflasi tembus 10 persen.

Begitu juga dengan Rusia yang menurunkan suku bunga acuan ke level 8 persen setelah inflasinya tembus 8 persen.

Beberapa negara lain juga tengah bersiap menurunkan suku bunga, yakni Amerika Serikat (AS) dan negara di benua Eropa.

“Inflasi di AS sekarang sudah 7 persen, dan di Eropa sudah 5 persen. Dengan fenomena tersebut, kami memproyeksi bahwa volatilitas dari aliran modal dan nilai tukar akan terdampak,” kata Ani.

Faktor-faktor tadi, kata Ani meningkatkan risiko global dan menghambat pemulihan.

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) baru-baru ini mengoreksi ke bawah pertumbuhan ekonomi dunia dari 4,4 persen.

Di samping itu, volume perdagangan dunia juga berpotensi terkoreksi.

Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Menurut Ani, pertumbuhannya sempat ditopang oleh lonjakan harga komoditas, kemungkinan tak akan bertahan lama.

Pasalnya, harga komoditas utama seperti kelapa sawit dan batu bara akan kembali ke level normal di tahun ini.

“Dengan situasi seperti itu, baik di sisi pandemi maupun lingkungan ekonomi global, menjadi lebih menantang dan rumit,” kata Ani.

Namun kata Ani, Indonesia masih lebih baik dibanding negara lain dari sisi pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi RI secara keseluruhan sudah berada di atas level pra pandemi. Pertumbuhan ekonomi RI di kuartal IV 2021 mencapai 5,02 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Dengan demikian, tingkat pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2021 mencapai 3,69 persen (yoy). Dibanding kuartal III 2021, ekonomi RI tumbuh 1,06 persen pada kuartal IV 2021.

Dibandingkan dengan negara berkembang manapun, mereka belum pulih seperti sebelum pandemi, tetapi defisit fiskal mereka jauh lebih dalam dari Indonesia.

“Saya pikir apa yang dilakukan Indonesia relatif lebih baik dalam menggunakan instrumen fiskalnya untuk mengurangi dampak dari pandemi,” kata Ani.(mad/kps)

1

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed